Tahun Pertama NTT Muda, Flores Menjadi Saksi Cerita

SMAK Johanes Baptista

Tanggal 31 Oktober 2018 lalu, NTT Muda akhirnya resmi menjalankan misi pertamanya di pulau flobamora. Dari sekian banyak wilayah di Nusa Tenggara Timur, kami Tim NTT Muda, memilih Nagekeo dan Ngada Flores sebagai dua kabupaten yang patut untuk dikunjungi. Berbagai aktivitas dilakukan mulai dari berbagi informasi beasiswa dan mengadakan kelas inpirasi. Namun tujuan utama yang ingin dicapai sebenarnya adalah bagaimana kami bisa menjadi jembatan bagi teman-teman di NTT untuk meraih mimpi dan prestasi.

Sinar matahari terik dan udara panas menyambut saat kami pertama kali tiba di Ende. Sambil melaju ke Mbay untuk menginap di rumah kerabat teman, kami mereview rencana perjalanan yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Beberapa nama sekolah tertulis dalam lembar itu; SMAK Theresia Aesesa, SMA 1 Aesesa Nagekeo, SMAK Klemens Boawae. Tapi dalam hati, kami tau, bahwa rencana ini bisa berubah kapan saja karena kesibukan masing-masing sekolah.

SMAN 1 Aesesa

Benar saja, baru beberapa menit di Ende, kami dikabari bahwa Dinas Pendidikan dan Kepemudaan di Kabupaten Nagekeo meminta kami untuk berbincang bersama guru-guru di SMAK Johanes Baptista di daerah Wolosambi. Sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat undangan tersebut. Meski lelah namun kami begitu bersemangat. Tak berpikir panjang, kami pun langsung melakukan perjalanan dari Ende ke Wolosambi. Ada yang pernah kesana?

Perjalanan dari Ende menuju Wolosambi berkelok-kelok seolah mengitari gunung kecil. Yang tidak terbiasa, pasti akan mabuk di jalan. Yang terbiasa, akan beruntung karena dapat menikmati pemandangan yang perlahan berubah dari sibuknya susasana kota Ende ke pemandangan yang semakin hijau dan udara yang semakin dingin di dataran tinggi Wolosambi.

Sesampainya kami di SMAK Johanes Baptista, waktu sudah malam. Terlihat beberapa pemuda sudah menunggu di daerah aula gereja yang juga merupakan asrama murid SMAK Johanes Baptista. Ketika perwakilan dari dinas pendidikan datang menyambut, barulah kami tahu bahwa orang-orang yang kami kira pemuda tadi merupakan guru-guru SMA! Wah, ini menarik.

Di ruang tamu yang hangat, kami duduk melingkar, saling memperkenalkan diri dan bertukar cerita. Kami ungkapkan harapan-harapan yang ingin kami bawa, serta rencana kami ke depan. Satu hal yang membekas sekali dari perbincangan kami malam itu adalah tentang pentingnya peranan guru untuk mengembangkan pendidikan, namun minimnya program pengembangan keterampilan disediakan bagi mereka. Rasanya kami disadarkan bahwa guru sering kali terlupakan dalam banyak program pendidikan, padahal mereka sama seperti murid-muridnya, memerlukan pengembangan diri di era yang serba cepat ini – supaya tidak tertinggal dari anak muridnya. Malam itu, NTT Muda berjanji untuk juga mencangkupkan pengembangan diri para guru dalam program kami di masa depan.

SMA Katholik Theresia

Esoknya adalah hari pertama kami mengajar dan mengadakan kelas. Dua sekolah yang kami datangi di hari itu: pertama adalah SMA Katholik Theresia dan SMAN 1 Aesesa. Kami sangat bersyukur kedua sekolah memberikan respon yang hangat. Mulai dari Suster Kepala di SMAK Theresia dan Bapak Kepala Sekolah dan semua guru dari SMAN 1 Aesesa menerima kami dengan sangat baik. Ada beberapa hal yang kami temukan dari proses diskusi di dua sekolah tersebut ;

1. Berbagi inspirasi adalah kegiatan yang diperlukan oleh para murid. Inspirasi dari orang yang berasal dari luar sekolah memberikan gambaran lebih jelas pada para murid tentang cita-cita yang mereka coba kejar. Sharing session juga memberikan semangat baru bagi mereka yang mungkin jenuh dengan kegiatan rutin sekolah.
2. Banyak anak-anak yang datang ke sekolah dari keadaan rumah yang cukup sulit dari segi ekonomi dan sosial. Karenanya dibutuhkan dukungan, bukan hanya dari sekolah, untuk membantu mereka menyelesaikan sekolah atau untuk mendukung mereka meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kegiatan NTT Muda dari segi sharing info beasiswa dapat menjadi salah satu solusi. Duh, kami berdoa semoga kami benar-benar bisa berkontribusi ya!
3. Bahasa inggris menjadi hal yang paling menantang bagi para murid dan guru untuk mencari beasiswa di luar negeri atau saat mencari pekerjaan. Dibutuhkan lebih banyak tenaga pengajar berpengalaman untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa. Di Flores sendiri, tempat les Bahasa Inggris serta tempat test kemampuan berbahasa Inggris seperti TOEFL dan IELTS pun belum tersedia, sehingga menjadi hambatan tersendiri.

Sebenarnya masih banyak yang kami bicarakan dengan para guru namun sayangnya belum bisa kami rangkum satu per-satu. Pertemuan ini semakin menyemangati kami untuk menjalankan program NTT Muda secara konsisten, sehingga pelan-pelan kami dapat berkontribusi secara positif bagi sekolah-sekolah di NTT.

SMA Regina Pacis

Dari semua proses yang dilewati, sesi sharing session bersama anak-anak SMA menjadi salah satu hal yang menyenangkan. Termasuk saat kami mengunjungi SMA Regina Pacis Bajawa di akhir kunjungan kami di NTT. Tiga sekolah yang kami kunjungi punya fisik sekolah yang berbeda-beda, tapi semangatnya sama membaranya. Ada beberapa hal menarik deh yang kami dengar dari anak-anak sekolah dari tiga SMA ini:

1. Orang tua memiliki pernanan penting dalam menentukan masa depan alias jurusan dan rencana sekolah atau pekerjaan mereka. Banyak dari anak-anak SMA ini kalau menceritakan mimpinya, dimulai dengan kata-kata “Orang tua saya ingin saya mengambil jurusan …..”. Beberapa dari mereka bercerita juga kalau kadang apa yang mereka inginkan berbeda dengan apa yang orang tua mereka sarankan. Mereka meminta saran tentang bagaimana harus meyakinkan orang tua mereka agar mereka boleh mengejar cita-citanya. Nah, permasalahan ini menginspirasi kami untuk menuliskan artikel tentang tips dan trik meyakinkan orang tua. Tunggu ya!
2. Sebagian besar anak-anak SMA mencari jurusan yang akan menjamin pekerjaan ketika lulus. Misalnya, ada yang ingin masuk akademi kepolisian atau melanjutkan sekolah di PLN. Ada ketakutan dan beban besar bagi mereka untuk segera bekerja setelah sekolah. Hal ini sudah pasti disebabkan berbagai macam faktor seperti ekonomi dan social (malu apabila dibilang pengangguran).
3. Keinginan menjadi entrepreneur atau wiraswasta masih sangat kecil diantara para murid. Semuanya ingin bekerja di perusahaan, untuk suatu instansi atau orang lain. Hal ini dikarenakan berbisnis belum menjadi budaya yang lumrah di tempat-tempat yang kami kunjungi. Masyarakat pun masih menganggap anak muda yang menjadi entrepreneur sebagai anak muda yang belum bekerja dan diberi tekanan untuk ‘segera mencari pekerjaan’. Hal ini menarik bagi kami, karena ternyata demam untuk menjadi pengusaha muda yang ramai di Jawa belum sampai ke pulau lainnya. Di Jawa, orang-orang beramai-ramai membangun perusahaan sendiri, membentuk organisasi, dan berani menanggung kerugian bisnis. Hal ini juga membuat kami bertanya-tanya, apakah mungkin entrepreneurship tidak berkembang disini karena belum dibutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bekal bagi kami bagaimana ke depan harus membawa NTT Muda agar menjadi lebih bermanfaat untuk teman-teman di kampung. Misalnya kewirausahaan, siapa yang meyangka ternyata banyak juga anak muda disana yang berminat belajar lebih banyak mengenai hal tersebut. Selain itu, bagaimana merubah pola pikir para guru dan orang tua yang pesimis terhadap cita-cita anaknya, harapan anak didiknya bahwa di luar sana ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan. Perlu ada keberanian untuk melawan rasa rendah diri dan takut ketika berkaitan dengan mewujudkan cita-cita. Bagaimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar ya!

Selain bertemu dengan sejumlah pengurus sekolah dan murid-murid SMA, kami juga berkesempatan untuk bertatap muka dengan beberapa komunitas, salah satunya Tim Bagi Buku NTT. Di sebuah rumah yang menjadi tempat berkumpul anak2 usia sekolah dini ini, tersedia rak-rak buku yang diperoleh dari hasil donasi yang sengaja disediakan oleh komunitas Bagi Buku agar anak-anak di sekitar wilayahnya punya hobi membaca. Banyak hal yang kami perbincangkan diantaranya keinginan mereka untuk mendapatkan sumbangan buku lebih banyak lagi. Sayangnya, biaya mengirimkan buku, sangatlah mahal. Lagi-lagi, hal ini menginspirasi kami untuk support mereka dan kami tengah berupaya untuk bisa membawa buku lebih banyak dalam kunjungan selanjutnya. Yang tertarik untuk donasi, bisa menghubungi kami juga ya!

Itulah sedikit cerita yang bisa kami bagi di awal 2019, tentang perjalanan NTT Muda di akhir tahun lalu. Kami berharap tahun ini, akan lebih banyak daerah yang bisa kami kunjungi dan akan lebih banyak orang-orang inspiratif yang bisa kami bawa untuk bertemu dengan teman-teman. Mari kita berjalan bersama untuk membangun NTT menjadi terang bagi semua orang. Salam Flobamora!